Ilustrasi (sumber : Shutterstock, http://nasional.kompas.com)
Saya membuka tulisan saya kali ini dengan ungkapan
kedukaan mendalam saya terhadap para koban peristiwa Paniai, saudara
kami Yulian Yeimo, Simon Degei, Alpius Gobay dan Alpius Youw. Semoga
kedamaian-Nya menyelimuti kepergian mereka.
Peristiwa Paniai adalah peristiwa kemanusiaan yang
merenggut korban yang namanya sudah saya sebutkan di atas. Sekali lagi,
semoga damaiNya selalu menyertai kepergian mereka. Bila anda melihat
berbagai kabar berita mengenai peristiwa ini, ada berbagai versi
kronologis terjadinya peristiwa ini yang berbeda satu dengan lainnya,
ada versi aparat keamanan, versi Dewan Adat Papua (DAP), versi
pemerintah daerah Paniai dan versi Komite Nasional Papua Barat (KNPB)
serta mungkin ada versi lain yang belum saya sebutkan. Hal ini
menyebabkan kejelasan peristiwa ini begitu simpang siur.
Hal tersebut berbuntut panjang sampai pada adanya
penolakan terhadap kedatangan Jokowi yang akan menghadiri Perayaan Natal
Nasional di Papua, akhir Desember 2014 dalam kapasitasnya sebagai
presiden. Kompasianer senior, Opa Jappy dan kompasianer Evha Uaga sudah
membahas mengenai penolakan terhadap Jokowi ini dengan sangat baik. Saya
akan mencoba membahas peristiwa ini dari sisi lain, yaitu bagaimana
peristiwa Paniai akan mempengaruhi usaha melepaskan Papua dari
Indonesia.
Natal 2015 di Papua
Kehadiran Jokowi dalam Perayaan Natal Nasional yang
pertama kalinya diselenggarakan di Papua 2015 nanti adalah program
penting bagi Papua dan Indonesia. Pertama rencana kedatangan
Jokowi tersebut akan, paling tidak, menggambarkan keseriusan dan
komitmen Jokowi kepada rakyat Indoneisa di Papua dalam mengurus Papua
seperti yang ia janjikan ketika menjadi kandidat presiden. Kedua salah
satu anggota panitia Penyelenggaraan Natal Nasional di Papua, Pdt.
Lipiyus Biniluk,S.Th, mengatakan bahwa Perayaan Natal Nasional di Papua
tersebut akan dihadiri para dubes dari negara-negara sahabat (sumber). Sehingga dengan kedatangan mereka di Papua, mereka akan melihat perkembangan ekonomi di Papua dan concern pemerintahan Jokowi untuk Papua secara langsung.
Dari hal tersebut, secara kasat mata akan terlihat
bahwa Perayaan Natal Nasional di Papua nanti akan menghambat usaha OPM
(Organisasi Papua Merdeka) dalam diplomasinya di luar negeri untuk
memisahkan Papua dari Indonesia. Sayangnya peristiwa Paniai pun terjadi,
terlepas dari siapa yang bersalah dalam peristiwa ini, bila dilihat
dari kacamata Pemerintah Indonesia vs OPM, maka peristiwa Paniai akan
menguntungkan OPM dan sangat merugikan Pemerintah Indonesia. Entah hal
ini suatu kebetulan, atau ada skenario di belakangnya, satu hal yang
pasti adalah peristiwa Paniai sangat menguntungkan diplomasi OPM di luar
negeri.
Desember 2014 di Papua
Bila kita mundur beberapa hari ke belakang sebelum
peristiwa terjadi, ada beberapa pergerakan kelompok-kelompok OPM sayap
militer. Kelompok Goliath Tabuni yang dibantu oleh kelompok pimpinan
Militer Murib dan kelompok pimpinan Lekagak Telanggen menyerang dua
anggota Brimob Polda Papua, Iptu Thomson Siahaan dan Bripda Apriyanto
Forsen. Keduanya tewas tertembak di depan Kantor Bupati Ilaga ketika
mempersiapkan perayaan menjelang Natal di Kantor Bupati Ilaga. Beberapa
hari kemudian kelompok Pilia, pimpinan Puron Wenda dan Eden Wanimbo
mengundang wartawan ke markasnya. Liputan dilaporkan 3 bagian dengan
memamerkan persenjataan kelompok ini dan kesiapan serta komitmen
kelompok ini untuk melawan pemerintah
Indonesia (sumber).
Di Paniai, ada sebuah kelompok sayap militer OPM
yang saat ini sedang meredup. Kelompok ini adalah TPN/OPM Komando Daerah
Paniai-Nabire pimpinan Leo Magai Yogi. Kepemimpinan Leo Magai Yogi di
kelompok ini bukan diberikan karena kharisma, pengalaman bergerilya atau
lainnya. Leo Magai Yogi menjadi pemimpin kelompok melalui keluarganya.
Kelompok ini awalnya dipimpin oleh Thadius Magai Yogi, ayah dari Leo
Magai Yogi. Dalam kepemimpinan Thadius, kelompok ini menjadi salah satu
kelompok yang disegani oleh kelopok OPM sayap militer lainnya. Ketika
Tahdius meninggal, kepemimpinan diambil oleh John Magai Yogi, kakak dari
Leo Magai Yogi. Dalam kepemimpinannya, kelompok ini mulai mengalami
penurunan. Hingga saat ini John digantikan Leo Magai Yogi, yang sedang
berusaha mendapatkan pengakuan dari anggota kelompoknya dan pimpinan
kelompok dari sayap militer lainnya.
Apakah kelompok ini yang dimaksud Gatot Nurmantyo
(Kepala Staf TNI Angkatan Darat) sebagai kelompok yang menembakan
senjata dari atas bukit Gunung Merah dalam kerusuhan yang terjadi di
Paniai? Hasil penyelidikan terhadap proyektil atau selongsong yang
tertinggal akan menjawab pertanyaan ini (sumber)
Konflik di Papua : Sebuah Enigma
Meletusnya senapan, terlontarnya peluru dan
tertumpahnya darah adalah hal yang bukan pertama kali terjadi di Papua.
Ada semacam hal yang miris terjadi bila aksi tembak-tembakan itu telah
terjadi. Apabila dalam suatu bentrokan, korban yang terjatuh dari pihak
aparat keamanan, maka aparat keamanan akan menunjuk OPM sebagai
organisasi teroris yang kerap melanggar HAM. Sedangkan jika korban yang
terjatuh dari pihak lainnya, maka OPM akan menunjuk aparat keamanan dan
pemerintah Indonesia sebagai penjajah, kolonialis. Kedua pihak
bersembunyi dalam sebuah karya demokrasi, Hak Asasi Manusia.
Sedangkan korban, baik dari aparat keamanan,
masyarakat sipil atau pihak OPM, tetap saja menjadi korban. Keluarga
dari korban, tetap saja akan kehilangan anggota keluarganya. Dan
konflik, tidak akan pernah bertemu dengan ujungnya.


0 komentar:
Post a Comment